0

Kerennya Tim IPDE

Hari ini, 29 April 2017 adalah hari terakhir kerja di bulan ini. Itu artinya aku sudah sebulan kerja disini, di sebuah rumah sakit umum daerah. Adaptasi kerjaan tidak serumit saat pertama kali kerja dulu. Namun, adaptasi dengan orang-orang masih sama. SUSAH, apalagi untuk tipe orang yang cuek sepertiku. Meski diniatkan ingin mengubah diri menjadi sosok yang lebih supel, nyatanya sesuatu yang disebut "karakter" itu tak gampang untuk diubah. Tapi ya, semua butuh proses, begitu pikirku. Nantinya akan ada waktu dimana aku akan dekat dengan mereka-mereka.

Berbicara masalah pekerjaan, aku menyadari bahwa mereka yang ada di IPDE adalah orang-orang yang tangguh, kuat, dan keren, baik laki-laki maupun perempuannya karena hari ini aku menyaksikan sendiri bagaimana mereka bekerja di luar ruangan.

Jadi ceritanya, RSUD Purworejo ini akan melakukan renovasi atap lantai dua gedung perkantoran. Untuk itu, bagian administrasi, keuangan, kesekretariatan, dan semua bagian yang berada di lantai dua akan dipindahkan untuk sementara waktu. Lantas apa hubungannya dengan IPDE?
0

Cerita di Balik Sebuah Cerita

Percayakah kamu kalau rejeki, jodoh, maut, dan jalan cerita kehidupan kita sudah ada yang mengatur? Aku sih sangat percaya sekali. Apalagi dengan kejadian yang belum lama ku alami ini.

Sudah baca postinganku tentang SIMRS GOS kan? Jadi, issue untuk penggunakan SIMRS itu sudah dari tahun lalu. Saat itu, baru ada satu orang yang bertanggung jawab untuk mengerjakan aplikasi tersebut. Sebut saja dia Pak Rudi.

Merasa kewalahan, dia mengajukan agar dilakukan perekrutan karyawan untuk membantunya. Setelah diadakan seleksi, didapatlah satu orang yang dirasa kompeten untuk mengisi posisi tersebut. Panggil saja di Mas Andi.
10

Tentang SIMRS GOS

Direkrut untuk mengisi formasi "Programmer Web" membuatku kembali berkutat dengan skrip pemrograman dan database. Kali ini aku mengerjakan aplikasi SIMRS GOS (Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit Generic Open Source), sebuah sistem informasi terintegrasi yang disiapkan oleh Ditjen BUK (Direktorat Jenderal Bina Upaya Kesehatan) Kemenkes RI.

Sebagai informasi, SIMRS GOS ini;
  1. Gratis bagi RS baik Pemerintah maupun Swasta
  2. Dibangun menggunakan bahasa pemrograman PHP dan database MySQL
  3. Open Source, sehingga mudah untuk di modifikasi.
0

Keputusan yang Tepat

Jika kita melihat kalender tahun 2017, maka akan kita dapati tanggal merah dimana-mana, terutama di hari Senin, Kamis, dan Jumat. Pas banget untuk kita yang suka traveling. Banyak long weekend dan untuk libur hari Kamis, kita bisa mengajukan cuti di hari Jumat untuk dapat bisa menikmati libur 4 hari.

Itu dulu sebelum aku pindah. Karena sekarang aku 6 hari kerja, maka libur di hari Kamis atau Jumat jadi tidak berasa apa-apa. Menyesal? Jelas tidak. Aku justru merasa bersyukur karena aku sudah pindah.

Bulan Agustus tahun lalu aku pernah menuliskan catatan ini; Kapan resign dari IAMI ?
Catatan bulan Agustus 2016

Istilah-Istilah di Rumah Sakit

Memulai sebuah pekerjaan baru memaksa kita untuk beradaptasi. Orang-orang baru, lingkungan baru, kebiasaan-kebiasaan setempat, aku harus segera menyesuaikan. Soal pekerjaan pun aku harus segera belajar.

Tiga tahun yang lalu, ketika lulus kuliah, aku bekerja di bisnis penjualan sparepart. Aku belajar bagaimana barang itu datang, disimpan, dijual, dan dikirim. Ada banyak istilah-istilah baru yang tak ku mengerti, apalagi nama-nama sparepart yang jumlahnya puluhan ribu.

Sekarang ini, aku bekerja di rumah sakit. Aku pun kembali dihadapkan dengan istilah-istilah baru yang masih masing di telingaku.
0

Gagal Move On

Dua puluh hari sudah aku berada di kota ini. Meski dengan suasana baru, sejujurnya aku masih belum bisa move on dari hari-hariku sebelumnya di kota yang jauh disana itu.

***
Tiap pagi sebelum berangkat kerja, segelas teh hangat sudah tersedia di atas meja makan. Suasana dari gang menuju kantor, jalanannya, pedagang kanan kiri jalan, aku masih mengingatnya. Memasuki area kantor, ku sapa para Pak Satpam yang berjaga. Terkadang ku cek juga, apakah ada Mbak Pudji yang sedang menunggu tumpangan. 

Menuju kantor Sparepart, ku bunyikan klakson ke Pak Satpam, tanda menyapa. Ku sapa pula Bapak-bapak berseragam hijau yang bertugas menjaga kebersihan. Kemarin aku belum sempat berpamitan dengannya karena memang hanya di pagi hari aku bisa bertemu dengannya.

Sampai di Sparepart, aku berhenti depan lobi untuk absen, dan kemudian menuju parkiran. 
0

Sahabat Sparepart

Sudah menjadi kebiasaan kami, Divisi Sparepart, untuk melakukan morning talk setiap hari Selasa hingga Jumat. Aktivitas tersebut kami gunakan untuk sharing kegiatan/hal yang perlu dibahas dan diketahui oleh semua orang. Dan pada tanggal 31 Maret 2017, ku gunakan momen tersebut untuk berpamitan.

Awalnya aku ingin menyebutkan nama mereka satu persatu, berucap terima kasih secara personal, one by one. Sayangnya, semua itu tak terucap. Aku hanya mengucapkan terima kasih dan minta maaf pada semuanya.

Setelah selesai mengucapkan kata perpisahan, justru satu per satu dari mereka yang menyampaikan perasaan mereka kepadaku. Dimulai dari Mas Ade dan yang lainnya. Awalnya aku masih bisa senyum-senyum, ketawa, sambil mengucapkan terima kasih kembali.
0

Dikira Menikah

Keputusanku untuk kembali ke kampung halaman menimbulkan SATU PERTANYAAN sama dari semua orang. "Kamu mau nikah ya?"

"Iya pasti. Cowokmu orang sana, terus kamu disuruh pulang."
Nggak cuma satu orang lho, tapi hampir semua. Teman kerja, kepala departemen, HRD, dan bahkan teman-teman dekatku di Baperjo, ikut menanyakan juga. Duh!
Kalau kenyataannya memang seperti itu sih aku seneng banget. Tapi kalau aku pindah karena menikah, pasti aku akan resign setelah menikah. Kan lumayan dapat "uang sumbangan" dari perusahaan. Ehh? Iya ga sih? 
Pada akhirnya, saat hari terakhir sebelum pindah, aku pun hanya mengiyakan ketika mereka berkata,"Undangannya ditunggu ya. Kalau nikah kabar-kabari lho." *ketawa sambil nangis*
Terkadang bingung sendiri harus jawab gimana saat orang-orang bertanya,"Calonnya orang mana?" Aku pun membiarkan mereka berspekulasi sendiri. "Orang Semarang ya? Apa Ambarawa?"
Halah. Halah. Suka-suka mereka wis. *ketawa sambil nangis (lagi)*
Sekarang ini aku hanya berharap, semoga apa yang orang-orang katakan, segera jadi kenyataan :D
2

Beberapa Hal yang (Mungkin) Perlu Diketahui Sebelum Pindah ke Jakarta

Pernah nggak sih ketika kamu pergi atau pindah ke daerah lain, kamu merasakan adanya perbedaan untuk hal-hal tertentu yang sifatnya default. Maksudnya apa sih? Jadi default yang ku maksud disini adalah sesuatu yang jika kita tidak menyatakan permintaan khusus, maka akan dilayani dengan kondisi standar. Nah, kondisi standar inilah yang masing-masing daerah bisa berbeda.

Sama halnya ketika aku awal pindah ke Jakarta. Beberapa perbedaan default yang kurasakan adalah sebagai berikut.

1. Es Teh
Di Purworejo, saat kita menyebutkan es teh, maka kita akan diberikan es teh manis. Tapi kalau di Jakarta, kita hanya akan disuguhkan segelas es teh tawar.

2. Soto
Kalau di Jawa, khususnya di Purworejo, soto itu dihidangkan secara campur (nasi + soto dicampur ke dalam satu piring). Di Jakarta, soto akan dihidangkan secara terpisah, nasi sendiri, soto sendiri.
Selain itu, soto di Jawa tidak memakai emping dan telur rebus. Tapi, di Jakarta, soto dilengkapi dengan dua bahan makanan tersebut.
2

Single Tak Bisa Pakai Cincin

Menjelang akhir tahun 2016, sebelum berangkat haji, ibuku menjanjikan akan membawakan oleh-oleh khusus kepada kami, anak-anaknya, berupa gelang atau cincin emas. Sayangnya, harga emas di Arab sana tidak masuk akal. Akhirnya diputuskan untuk beli emas di Indonesia saja.

Sepulang haji, masing-masing anak ibu diajak ke tukang emas, salah satunya aku. Saat aku pulang kampung, ibuku mengajak ke kota untuk membeli cincin / gelang sesuai keinginanku.

Awalnya aku menginginkan sebuah gelang. Hanya saja, gelang kalau jumlah gram nya kecil, bentuknya hanya seperti tali. Lebih lagi kalau pakai gelang emas kok keliatan 'wow' banget. Dan karena pemikiran itu, akhirnya aku memutuskan untuk pilih cincin saja.
0

Pindah

Bulan Maret lalu menjadi bulan yang menggembirakan sekaligus menyedihkan. Salah satu resolusiku di tahun 2017 ini sudah terwujud; Mendapat Pekerjaan Baru. Dan tak tanggung-tanggung, pekerjaan baruku ini ada di kota kelahiranku, Purworejo. 

Sejujurnya aku ingin bekerja di Yogyakarta karena letaknya yang strategis. Suasana kota dan hanya butuh waktu 1,5 jam untuk tiba ke rumah orang tua. 

Sedari bulan Oktober aku sudah mulai mencari lowongan kerja. Awalnya aku membatasi pencarian hanya di kota Yogyakarta. Ada beberapa yang mengundangku untuk mengikuti seleksi. Dari sekian undangan, hanya dua tempat yang ku datangi. Tapi keduanya belum berjodoh denganku. Lama tak ada panggilan lagi akhirnya aku melebarkan batas pencarian ke kota-kota besar di Jawa Tengah seperti Semarang dan Solo. Tak ada panggilan seleksi. Pada akhirnya aku pun mulai mencari di area Jakarta - Bekasi, dengan catatan gaji lebih besar dari yang ku terima saat ini. 

Kenapa sih niat banget pengen pindah kerja? Mungkin salah satu alasannya ada disini.
Powered by Blogger.
Back to Top