Rumah Tanpa Ibu

Saturday, January 21, 2017
Aku tinggal di rumah sebuah keluarga yang menyewakan satu kamar kosong untukku. Segala kebutuhanku terpenuhi disini, termasuk makan malam. Ibu kos selalu memasak untuk keluarganya dan juga untukku. Sering kali dia iseng untuk membuat makanan kecil seperti puding, donat, singkong coklat, dan semacamnya.

Akan tetapi, sudah seminggu ini Ibu kos tidak berada di rumah. Sejak Minggu tanggal 15 Januari, Ibu dan Bapak berada di Tangerang, menemani anak pertamanya yang sedang lahiran putra ketiganya. Jadilah aku seorang diri di rumah dan menyiapkan segalanya termasuk makan untuk diriku sendiri.

Minggu, 15 Jan - Aku tidak makan. Aku baru sampai rumah sekitar pukul 22.00 WIB sepulang dari Semarang.

Senin, 16 Jan - Aku membuat martabak mie (Bapak dan Ibu selalu meninggalkan persediaan mie instant dan telur jika meninggalkan rumah untuk beberapa hari).

Selasa, 17 Jan - Aku membeli sate ayam. Cukup beli 5 tusuk untukku sendiri. Hahaha. Aku jadi ingat waktu dulu sering beli sate di Sungai Bambu yang rada ribet.

Rabu, 18 Jan - Aku membeli pecel ayam dekat rumah. Rasanya enak, meski harus makan sendiri. Malam itu ternyata Bapak pulang jam 21.30 WIB. Disusul kemudian ponakannya yang ikut pulang ke rumah karena besoknya dia ada wawancara kerja yang tak jauh dari rumah.

Aku mulai berpikir, besok makan apa ya?

Kamis, 19 Jan - Pulang ke rumah, ternyata sang ponakan sudah memasak nasi. Dia pun terlihat sibuk mengiris-iris bawang. Ternyata dia membuat telur dadar isi cabe dan bawang. Lumayan enak.

Jumat, 20 Jan - Aku pulang agak malam. Aku sampai rumah sudah hampir pukul 20.00 WIB. Di meja makan terlihat ada sayur soup ceker dan ada ayam goreng. Rupanya menantu Bapak kos meminta adiknya untuk mengirimi makanan ke rumah. Belum sempat aku makan, sang menantu mengajakku pergi ke Gi*nt. Dia ingin membeli sepatu sekaligus sayuran untuk besok.

Sepatu sudah dibeli. Kami menuju tempat jualan sayur dan buah. Tak ada yang menarik. Sayurannya terlihat lesu dan harganya pun tak masuk akal. Kami mencoba berpindah tempat ke C*rrefour. Ternyata disana tak jauh beda. Selain sayurannya yang terlihat kurang segar, kami juga memperhatikan harganya. Seikat kacang panjang harganya 7.000 sekian. Jika Ibu tahu, pasti marahlah dia kenapa kami membeli disana. Tapi kami tak membeli satupun sayuran itu. Besok makan apa, pikirin besok ajalah. Haha.

Sabtu, 21 Jan - Seperti biasa aku bangun siang. Pukul 09.30 WIB aku baru keluar kamar. Ku lihat magic-com masih terbuka. Belum ada yang memasak nasi. Aku asyik bermain dengan cucu Ibu kos yang dititipkan disana. Pukul 11.00 WIB sang ponakan rupanya sudah memulai aksinya. Dia sedang memasak nasi. Setelah menanak nasi dalam magic-com, dia menuju dapur dan mulai merajang sesuatu. Ternyata dia menggoreng telur isi cabe dan bawang lagi. Aku pun memakan masakannya siang itu.

Tetiba aku merasa gagal menjadi wanita. Ya ampun, ada wanita segede ini di rumah tapi nggak bisa ngapa-ngapain? Nggak bisa nyediain makanan di rumah? Minta disedian mulu? Duh duh duh. Sungguh memalukan.

Sore hari, sang menantu belum nampak ke rumah. Aku pikir dia akan pulang cepat dari lemburan untuk menyediakan kami makanan. Ngarep banget ya :p Hingga pukul 17.00 WIB tak kunjung datang. Akhirnya aku tergerak untuk menyediakan makan malam hari ini. 

Aku mulai mengendarai motor, menuju tempat yang sepertinya menjual sayuran segar. Aku tak begitu yakin karena aku memang tak biasa membeli sayur-mayur. Beruntungnya tempat itu benar menjual sayur. Bingunglah aku mau beli apa. Toh aku juga tak pandai memasak.

Akhirnya aku membeli 3 ikat kangkung, tempe, kubis/kol, kentang, tomat. Total semua Rp 20.000,- malam ini aku akan memasak tumis kangkung dan tempe goreng. Besok aku akan memasak sop. Begitu pikirku.

Di tengah perjalanan pulang, aku kepikiran untuk membeli penyedap S*ori Saus Tiram agar jika kangkung tidak ada rasanya, setidaknya saus tersebut bisa menambahkan rasa sedapnya. Aku pun mampir ke warung, beli saus tersebut. Aku juga membeli tepung untuk goreng tempe biar nggak ribet bikin bumbu tempe goreng. Pilih yang praktis aja. Hehe. Melihat ada sosis, aku pun membeli 2 bungkus. Lumayan buat tambahan sop atau bisa digoreng untuk lauk besok. Semuanya habis Rp 12.500,-

Sesampainya di rumah, aku meminta bantuan sang ponakan. Dia memetik daun kangkung dan menggoreng tempe. Sangat, sangat membantu. Magrib kami selesai memasak. Rasanya .... lumayan lah untuk seorang amatiran. Aku tak jadi memakai saus tiram karena bumbunya sudah terasa. Tempenya sudah pasti enak karena tinggal goreng tanpa galau jika nantinya keasinan atau justru tak ada rasanya.

Alhamdulillah, hari ini makan malamnya lebih berwarna. Kalau ditanya kenapa tak beli sayur dan lauk yang sudah matang saja? Karena Bapak tak menyukainya. Entah karena alasan boros atau ingin masakan rumahan saja atau justru ingin kami belajar memasak? Aku tak tahu, tapi pernah suatu ketika Bapak melarangku membeli soto, karena di dalam kulkas masih ada sayuran yang bisa ku masak. Jadi ya sudahlah, kali ini aku lebih memilih membeli sayuran mentah dan memasaknya di rumah. 

Sebenarnya masakanku tak buruk-buruk amat rasanya. Hanya saja aku kurang percaya diri. Belum terbiasa, apalagi memasak untuk orang lain. Duh duh duh. Mungkin nanti kalau sering masak, rasanya juga bakal membaik ya. Yang jadi pertanyaannya, kapan membiasakan diri untuk memasak? Nanti sajalah kalau sudah punya suami. Hahaha.

Minggu, 22 Jan - Besok aku akan memasak sop campur sosis. Semoga rasanya enak ya.

Aku masih belum tahu kapan Ibu akan kembali ke rumah. Dengar-dengar nanti setelah suami dari anak Ibu yang baru saja melahirkan pulang, dari tugas dinasnya di Bandung. Cepat pulang Bu, kami merindukan masakanmu. Hehe.

No comments:

Terima kasih telah mengunjungi Wamubutabi :)
Silahkan tinggalkan jejak ^^

Powered by Blogger.