Telepon

Wednesday, January 28, 2015
"Sekali lagi kau berdering, aku tak akan segan-segan membantingmu!" Gerutuku pada handphone yang sedari tadi mengganggu ketenangan batinku.

Sehari ini sudah ada tujuh panggilan tak terjawab dari nama yang sama. Berkali-kali dia bertanya, berkali-kali pula aku menjawab. Jawabanku tetap sama. Aku tak pernah mengganti jawabanku meski orang di seberang sana mengemis-ngemis kepadaku.

"Tak sudi aku datang. Buat apa? Tak ada gunanya. Buang waktu saja." Kesalku.


Aku masih tak mengerti mengapa ia terus memaksaku. Apa dia benar-benar tak bisa mencerna kata 'TIDAK' yang entah harus berapa kali ku katakan agar dia mengerti.

'Aku harus mengakhiri ini semua. Aku bosan dihantuinya. Dan satu lagi, aku tak peduli padanya.' Batinku.

Ku ambil handphoneku. Dan sebelum ia menerima panggilan lagi dari orang yang sama, maka aku akan menelponnya terlebih dahulu. Tanpa menunggu berapa lama, suara orang diseberang terdengar bersemangat menerima teleponku.

"Apakah kau berubah pikiran?" Tanyanya girang.
"Tidak sama sekali."
"Ayolah. Aku akan penuhi semua keinginanmu jika lusa kau bisa datang."
"Tidak. Harus berapa kali ku bilang, aku tidak akan datang. Ini adalah jawaban akhirku. Aku akan sangat membencimu jika kau terus memaksaku."
"Mengapa? Mengapa kau tega padaku? Apa kau tak suka jika aku bahagia?" suaranya terdengar lemah, sedih.
"Ha? Tega kau bilang? Kau yang lebih tega. Lusa adalah hari ke seratus ibu meninggal. Dan kau, kau justru melangsungkan pernikahan dengan wanita lain. Ayah macam apa kau ini?"

Tuuuuut. Telepon ku tutup dengan penuh amarah. Namun, sempat terdengar lirih satu kalimat sebelum sambungan telepon benar-benar tertutup. "Itu permintaan ibumu, Nak."

4 comments:

  1. aaaaaa..... :'(
    ceritanya bikin kesal memang, tapi, pernahkah si anak memikirkan perasaan si bapak juga? yang pasti merasa sangat kesepian.

    alur dan penyajiannya bagus, Mbak. semoga menang ya.

    ReplyDelete
  2. eh, udah menang. selamat Mbak. *niup petasan, bakar terompet*

    ReplyDelete

Terima kasih telah mengunjungi Wamubutabi :)
Silahkan tinggalkan jejak ^^

Powered by Blogger.